Contact Us

X
:
:
:
:
:
ARTICLE > CATEGORY > KESEHATAN & NUTRISI
Sayur segar lebih baik dari sayuran beku?
Sayur segar lebih  baik dari sayuran beku?

Ada banyak hal menarik yang berkaitan dengan sayuran dan kesehatan anak di kalangan masyarakat. Sebagian mitos, tapi sebagian lagi adalah fakta. Berikut mitos dan fakta tentang sayuran:

1.    Sayuran/buah segar lebih baik daripada sayuran yang dibekukan.
Mana yang akan Ibu berikan untuk si kecil? Sayuran segar atau beku. Mana lebih baik? Memang, sayuran segar atau mentah (fresh) memang bagus. Namun, bila dilihat dari lamanya waktu penyimpanan sayur/ buah ini, ternyata kandungan gizi sayuran  beku (frozen) tertentu lebih baik. Penelitian membuktikan, sayuran beku memiliki kandungan vitamin dan aktioksidan lebih tinggi ketimbang yang segar. Penting diketahui, antioksidan bukan hanya mampu menjaga kesehatan tubuh anak secara keseluruhan, melainkan juga dapat mencegah kanker kelak.
Menurut tim peneliti dari Leatherhead Food Research dan University of Chester,  sayuran segar yang disimpan lama di dalam lemari es akan kehilangan nutrisinya, tak demikian dengan sayuran yang langsung dibekukan ketika dipanen sehingga nutrisinya tetap tinggi. Beberapa sayuran beku yang diteliti oleh para ahli tersebut adalah wortel, brokoli, kecambah, buncis, dan blueberry. Tentunya jika memilih produk beku, perlu diperhatikan tanggal kedaluwarsanya. Selain itu, dalam mengolah sebaiknya sekaligus habis tanpa menyimpan bagian sisa, ini untuk mengurangi kerusakan mutu produk dan kandungan gizinya.

2.    Sayur dan buah merupakan bahan makanan sumber antioksidan.
Hal ini tidaklah salah, asal  jangan dibalik bahwa semua antioksidan berasal dari buah dan sayuran. Pasalnya, seluruh tumbuh-tumbuhan-termasuk polong-polongan, kacang-kacangan, biji-bijian, dan butir-butiran-juga kaya antioksidan. Selain lewat makanan, antioksidan juga bisa didapat lewat suplemen tertentu.

3.    Konsumsi sayuran hijau sebabkan rematik.
 Rematik atau Artritis Reumatoid (AR) adalah suatu penyakit autoimun sistemik yang menyebabkan peradangan pada sendi. Banyak faktor timbulnya penyakit ini, dari genetik (keturunan) sampai gaya hidup yang tak sehat. Sementara sayuran hijau tidak menyebabkan rematik. Satu-satunya penyakit rematik yang berhubungan dengan makanan (jerohan, alkohol, kerang-kerangan, daging merah dalam jumlah besar) adalah panyakit gout atau pirai (penyakit sendi akibat asam urat).
    Mengonsumsi sayuran hijau justru amat dianjurkan karena terbukti sangat bermanfaat untuk kesehatan. Sayuran hijau mengandung banyak vitamin, mineral, dan serat yang tinggi yang baik buat anak. Sayuran hijau juga menyumbang antioksidan yang membantu menjaga tubuh dari radikal bebas. Bayam, misalnya, kaya akan vitamin A, B9, C, E, dan K. Sementara brokoli, kandungan vitamin C-nya lebih banyak daripada jeruk, selain juga mengandung kalsium setara dengan segelas susu.
    Yang juga penting dari sayuran hijau adalah kandungan asam folatnya. Asam folat merupakan salah satu zat gizi yang bermanfaat meningkatkan kerja otak anak.

4.    Sayur bayam tidak boleh dikonsumsi jika sudah dipanaskan berulang-ulang.
    Ini memang bukan mitos, pasalnya, kandungan zat besi yang tinggi pada bayam, bila terlalu banyak bereaksi dengan udara, akan berubah menjadi senyawa yang bersifat racun (oksidan) bagi tubuh. Bayam juga mengandung senyawa nitrat (NO3) yang ketika teroksidasi akan berubah menjadi nitrit (NO2) yang juga bersifat racun.
    Selain tak boleh dipanaskan berkali-kali, sayur bayam juga tak boleh dimakan dalam jangka waktu lama setelah dimasak. Namun, berapa batasan waktu yang aman untuk menyantap sayur bayam, tak ada patokan pasti. Yang jelas, sayur bayam tak layak dikonsumsi lagi jika warnanya sudah berubah hitam. Umumnya, proses perubahan warna dari hijau ke hitam ini berlangsung antara 4-5 jam setelah dimasak.

 

Tags : Nutrisi, Gizi Anak, Nafsu Makan Anak, Kesehatan Anak