Contact Us

X
:
:
:
:
:
ARTICLE > CATEGORY > PERAWATAN BAYI
Kapan Saatnya Anak Rutin ke Dokter Gigi?
Kapan Saatnya Anak Rutin ke Dokter Gigi?

Mencegah anak takut ke dokter gigi sebenarnya bisa dimulai dengan mengajak putra-putri Anda merawat gigi dan kontrol ke dokter gigi sedini mungkin. Percayalah, gigi yang terawat sejak kecil akan terlihat sehat dan bebas masalah di usia dewasa kelak.
Rentang usia 6-12 tahun adalah masa yang "kritis" bagi kesehatan gigi anak. Pasalnya, di usia inilah setiap anak mengalami masa gigi campuran, yaitu gigi susu mulai tanggal satu-persatu, digantikan dengan gigi sulung.

Di masa ini banyak sekali masalah yang timbul. Misalnya, satu gigi mau tumbuh, gigi lain berlubang. Atau salah satu gigi tumbuhnya miring, sedangkan gigi lainnya sulit menembus gusi sehingga menimbulkan pembengkakan, bahkan radang.

Menurut Drg. Rosa Damayanty, di fase inilah anak seharusnya sudah akrab dengan dokter gigi, agar berbagai masalah dapat diatasi sejak dini.
"Sejak gigi anak mulai tumbuh, sebaiknya orangtua rajin membawa anak melakukan pemeriksaan rutin ke dokter gigi, minimal 6 bulan sekali. Bisa lebih sering jika ditemukan banyak masalah di giginya."
Ada dua tindakan yang penting dilakukan sejak gigi anak mulai tumbuh, yaitu tindakan preventif atau pencegahan, dan tindakan kuratif atau pengobatan. Tindakan pencegahan bisa berupa banyak hal. Yang paling dasar, memotivasi dan mendorong anak agar bergaya hidup bersih.
Apa yang bisa dilakukan?

1. Ajari Gosok Gigi
Sejak usia 6 bulan, kenalkan anak pada proses pembersihan gigi. Saat gigi susu sudah lengkap, berilah motivasi untuk menyikat gigi secara teratur. Cegah makanan yang manis-manis, dan kalau bisa di malam hari jangan minum apa pun yang manis kecuali air putih.
Bagaimana mengenalkan proses menggosok gigi pada bayi? Mulai dengan membungkus jari kelingking dengan kain kasa, kemudian gosokkan pada gigi bayi. Jika anak mulai besar, orangtua bisa mulai mengenalkan modifikasi sikat gigi, yang sekarang banyak jenisnya di pasaran. Misalnya sikat gigi kecil yang bisa dimasukkan ke jari. 

2. Tambal yang Berlubang
Lantas, bagaimana jika gigi anak sudah telanjur bermasalah? Sudah tentu perlu dilakukan tindakan. Permasalahan yang kerap timbul adalah gigi berlubang (caries), goyang karena sudah waktunya dicabut, pertumbuhannya tidak rata, bahkan gangguan pada saraf gigi karena lubang yang sudah terlalu parah.
Kondisi mulut dalam keadaan tertentu mempengaruhi terjadinya caries alias lubang pada gigi. Jika terjadi caries, gigi anak sebaiknya ditambal. Ada orangtua yang menganggap jika gigi susu anak berlubang tidak perlu ditambal karena toh nantinya akan tanggal. Namun menurut Rosa, tanggalnya gigi susu pada anak tidak bisa diprediksi kapan.

"Misalnya gigi mulai berlubang saat anak usianya 4 tahun, kemudian baru tanggal saat usia 9 tahun. Selama itu, anak akan mengalami berbagai masalah yang diakibatkan gigi berlubang. Rasa sakit, makan jadi enggak enak, mengganggu kualitas hidup. Kasihan, kan, kalau anak masih kecil sudah merasakan sakit gigi. Jadi lubang sekecil apa pun harus segera ditambal," ujar Rosa.

3. Jeda Waktu Makan 
Soal waktu juga memengaruhi. Maksudnya, jarak waktu antara makan yang satu dengan waktu makan yang lain, tanpa melakukan sikat gigi atau kumur. Jika terlalu dekat, kondisi mulut cenderung lebih asam. Dalam kondisi asam, bakteri gampang tumbuh. "Usai sikat gigi setelah sarapan, misalnya, jangan langsung ngemil lagi, nanti kondisi mulutnya asam lagi. Berilah waktu agar mulut pH-nya terjaga," jelas Rosa.

Foto: progressivedentalny.com

Produk Terkait:

Tags : gigi, kesehatan gigi, kesehatan anak, tumbuh kembang anak