ARTICLE > CATEGORY > TUMBUH KEMBANG BALITA
YUK, AJARKAN 5 LIFE SKILLS INI PADA ANAK
YUK, AJARKAN 5 LIFE SKILLS INI PADA ANAK

Life skills adalah keterampilan yang akan menjadi keberdayaan anak dalam menghadapi tantangan hidup kelak. Life skills  yang dimaksud di sini adalah kemandirian, berbagi,  empati, disiplin, dan bagaimana si kecil merawat dirinya.  Berikut penjabarannya satu per satu:

KEMANDIRIAN

Mengapa perlu diajarkan:

Kemandirian  secara tidak langsung akan mengajari anak untuk bertanggung jawab. Kemandirian juga akan menumbuhkan pikiran kritis karena anak  mandiri akan berusaha menyelesaikan segala masalahnya sendiri.

Bagaimana mengajarkannya:

  • Tumbuhkan rasa aman (basic trust).  

Anak yang merasa aman (secure) akan  lebih berani menghadapi tantangan, sekaligus lebih  mandiri dalam menyelesaikan persoalan.

  • Beri contoh konkret.

Untuk mendapat gambaran bagaimana seharusnya bersikap mandiri, si kecil yang masih balita tentu membutuhkan panutan  dari orangtuanya. Dengan demikian, anak akan lebih mudah menirunya.

  • Tetapkan batasan secara tepat.

Larangan yang diberikan pada anak haruslah disertai alasan yang logis. Saat si balita  mencoba mencuci piring, misalnya,  tak perlu ditakuti-takuti piring itu akan pecah dan melukai tangannya. Bila Ibu khawatir si kecil terluka,  minta anak untuk mencuci piring melamin yang tak mudah pecah. Ketakutan yang tidak beralasan pada diri anak hanya akan menghambat pembentukan sikap mandiri.

  • Beri kepercayaan pada anak.

Beri kepercayaan pada anak, bila ia dirasa sudah sanggup melakukannya. Seperti contoh di atas,  bila anak  ingin mencuci piring sendiri, berilah ia kesempatan untuk mencoba. Kepercayaan yang diperoleh anak akan membuat kemandiriannya kian teruji.

BERBAGI

Mengapa perlu diajarkan:

Kegiatan mulia ini akan membuat orang lain merasa terbantu. Menolong dan berbagi juga akan melatih rasa peduli anak. Sebagai makhluk sosial, berbagi dengan orang lain  akan membuat si penerima dan si pemberi bantuan sama-sama bahagia.

Bagaimana mengajarkannya:

  • Bisa dimulai di usia batita (bawah tiga tahun)  dengan mengenalkan konsep kepemilikan; mana milik anak dan milik orang lain.
  • , "Ini sabuk milik Ayah, ini lipstik milik Ibu, ini kalung milik Kakak,  dan ini mobil-mobilan Adek.”  Sesekali minta ia mengambilkan barang milik Ibu, lipstik, misalnya.
  • Berikan contoh konkret.
  • aat kita sedang makan kue, bagi kue tersebut menjadi dua potong lalu berikan kepada anak seraya berkata, "Ini Ibu punya kue, Ibu potong menjadi dua, satu buat Adek,  satu lagi buat Ibu. Adek juga kalau punya makanan harus berbagi dengan teman-teman, ya."
  • Ajak si kecil berbagi.

Contoh, ia memiliki sebungkus permen. Bagilah menjadi beberapa bungkusan kecil, lalu minta ia membagikan bungkusan itu kepada  teman-teman yang sedang bermain bersamanya. Sebelumnya, minta ia lebih dulu memilih bungkusan permen  yang disukainya. Dengan begitu,  si kecil memiliki pemahaman bahwa berbagi itu bukan berarti kehilangan semua miliknya. Hal ini memberinya rasa aman, sehingga  lebih mudah untuk mencoba untuk berbagi dengan orang lain.

  • Jangan memaksa bila anak tak mau berbagi.

Terutama di usia batita, anak masih egosentris. Memaksanya berbagi, memberi kesan orangtua tak menghargai kebutuhannya dan akan muncul perasaan, bahwa barang miliknya telah direbut oleh orang lain.  Lebih baik berempatilah padanya. Sikap empati akan menolong anak mengatasi rasa enggannya untuk berbagi.

  • Dorong anak untuk meminjamkan sesuatu pada temannya.

Contoh, “Dek, temanmu ingin lihat mobil-mobilannya. Boleh dipinjam sebentar, ya?" Pinjamkan mainan itu beberapa menit, kemudian kembalikan lagi padanya.

  • Beri tahu apa yang tak boleh dilakukannya pada barang yang bukan miliknya.
  • iasakan si kecil untuk meminta izin sebelum menggunakan barang yang bukan miliknya."Kalau Adek mau pinjam robot-robotan punya Kakak, bilang dulu ya?"
  •  Berikan pujian bila anak mau berbagi.
  • Adek baik sekali mau membagi kue itu dengan Kakak." Di sisi lain, berikan juga "peringatan" bila dia mengambil barang milik orang lain tanpa meminta izin.

EMPATI

Mengapa perlu diajarkan:

Dengan diajarkan berempati, anak akan memahami apa yang dipikirkan

dan dirasakan orang lain. Ia juga bisa memahami bagaimana sikap dan keputusannya berpengaruh terhadap diri sendiri dan juga teman-temannya. Idealnya, mereka akan berkembang menjadi sosok dengan pola pikir yang menolak permusuhan dan kekerasan.

Bagaimana mengajarkannya:

  • Bibit empati dapat ditanam pada anak sejak usia bayi. Mulailah dengan mengajaknya bermain  meniru ekspresi wajah. Contohkan bagaimana membuka mulut  lebar-lebar, menjulurkan lidah, memajukan bibir, atau tersenyum. Lihat bagaimana si kecil asyik mengamati Ibu.
  • Selalu dengarkan dengan sabar saat si balita bercerita. Keterampilan mendengarkan  tanpa menghakimi, yang Ibu tunjukkan pada si kecil, merupakan bentuk empati. Berikan tanggapan dengan cara merefleksikan perasaan anak saat itu, umpamanya, "Ibu tahu, kamu pasti kecewa, ya." Diharapkan, anak dapat meniru dan belajar mengembangkan empatinya dengan menjadi pendengar yang baik.
  • Arahkan anak untuk melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda. "Bagaimana seandainya yang kalah pertandingan itu kamu, seperti apa ya perasaanmu? Kamu lantas bagaimana?"
  • Praktikkan dalam keseharian.

Dalam kenyataan,   empati juga harus dipraktikkan. Contoh,  saat neneknya sakit, tanyakan pada anak apa yang sebaiknya dilakukan untuk menunjukkan kalau ia peduli.

DISIPLIN

Mengapa perlu diajarkan:

Melatih kedisiplinan akan membantu balita mempunyai pola hidup yang teratur dan mampu mengelola waktu dengan baik. Jika kedisiplinan ini

sudah menjadi kebutuhan, kala dewasa ia akan selalu hidup berdisiplin. Kelak, anak yang  disiplin akan memiliki intergritas, karena dapat memikul tanggung jawab dan memecahkan masalah dengan baik, cepat, dan mudah.

Bagaimana mengajarkannya:

·        Mendisiplinkannya harus dalam semua aspek siklus kehidupan anak, dari bangun tidur sampai tidur kembali, seperti, cuci kaki dan gosok gigi sebelum tidur, berdoa sebelum makan, dan sebagainya. Namun dalam membangun disiplin, tak bisa sekaligus, melainkan harus bertahap.

  • Konsisten dalam penerapannya,  bila tidak, "sia-sialah”  pendisiplinan yang kita lakukan. Ketidakkonsistenan orangtua dalam  melaksanakan disiplin, bisa membuat anak makin lama makin melenceng. Ketidakkonsistenan pun sama dengan memperlihatkan kelemahan kita pada si kecil, hingga ia bisa dengan mudah memanfaatkan kelemahan itu.

·        Lihat situasi dan kondisi lingkungan.

Jangan sampai, kala si kecil sakit, misal, kita tak mentolerir ketakdisiplinannya. Atau  Ibu dan Ayah harus melihat kemampuan anak dalam menjalankan instruksi. Bisa jadi anak tidak menurut karena bingung atau tidak paham apa yang harus dilakukan.

  •  Jadilah panutan.

Saat meminta anak untuk disiplin,  Ibu dan semua anggota keluarga perlu ikut melakukan hal serupa.

  • Disiplin harus dibarengi dengan kasih sayang.

Orangtua harus memiliki kemampuan dalam mengelola emosinya, sebab ketika anak tidak patuh dan orangtua marah, anak malah tidak akan mendapatkan pembelajaran dari disiplin yang telah ia lakukan. Paksaan, hardikan dan teriakan, hanya akan membuat anak takut dan merasa tidak aman. Karena itulah mengapa disiplin harus dibarengi dengan kasih sayang.

MERAWAT DIRI

Mengapa perlu diajarkan:

Dengan mengajarkan anak untuk selalu merawat dirinya, anak menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Ini akan  menciptakan kebiasaan baik yang akan melekat hingga seumur hidup mereka.

Bagaimana mengajarkannya:

  • Rajin mandi
  • Bangun kebiasaan pada anak untuk mandi teratur (dua kali sehari) dengan menggunakan sabun yang tepat untuk mereka.
  • Minta ia untuk menjaga kelembapan kulit dengan menggunakan My Baby lotion secara teratur.
  • Agar wangi dan segar sepanjang hari, My Baby powder dapat dimanfaatkan.  Minta ia untuk mengusapkan perlahan pada daerah-daerah lipatan tubuhnya, seperti leher dan ketiak.
  • Rutin mencuci rambut
  • Keramas setiap 2 hari sekali menggunakan sampo khusus anak. Jika anak memiliki aktivitas tinggi, keramas bisa dilakukan setiap hari.
  • Keringkan rambut dengan benar. Hindari penggunaan blow dry agar rambut tak lekas kering dan kusam.
  • Pilihkan anak sisir yang agak renggang dan ujungnya tumpul atau lembut, agar rambut anak tidak mudah rontok atau patah.
  • Gosok gigi

Kenalkan juga anak dengan sikat gigi dan ajari menyikat giginya, terutama setiap sesudah sarapan dan sebelum tidur malam.

  • Merawat kuku
  • Jelaskan pada  anak bahwa  kukunya perlu dipotong pendek agar bebas dari kuman. Setiap kali mandi selalu bersihkan tubuh hingga ke sela-sela kuku.
  • Ketika kuku anak kotor sehabis bermain, minta ia untuk segera mencuci tangan.
  • Minta anak untuk tidak menggigit-gigit kuku, karena akan merusak kuku.

Produk Terkait: